Peran etnis dalam pengembangan Tenun Donggala

Salah satu etnis minoritas yang ikut berkontribusi dalam perkembangan tenun Donggala adalah etnis keturunan Arab yang berada di Kab. Donggala dan kota Palu. Pada era sekitar tahun 1950-an setidaknya terdapat tiga nama keturunan arab yang ikut menekuni bisnis kain tenun Donggala ini. Selain nama salim bakaramah dan salim hande leleng di Palu. Juga terdapat nama Husen . Seorang keturunan arab di banawa. Banawa ketika itu adalah salah satu pusat lalu lintas perdagangan di sulawesi tengah yang sekarang menjadi ibukota kab. Donggala.

Kemasan Toko UD Anugrah Aneka Tenun dan Batik Bomba


Husen dengan perusahaanya bernama Pt. Husen menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan tenun Donggala pasca kemerdekaan . Selain menjual minyak tanah Husen juga menyasar bisnis kain tenun. Sebagai pedagang dan berada di jantung lintas pergubungan laut membuat komunikasi husen dengan daerah luar sangat mudah. Lewat tangan husenlah sebagian karya tenun Donggala menembus pasar jawa melalui pelabuhan Donggala. Di tengah melambungnya nama kain tenun Donggala yang di produksi melalui alat tenun tradiaional gedokan, keinginan pemerintah untuk memasalkan juga alat tenun bukan mesin atau ATBM.


Berawal dari sinilah Husen ikut mendatangkan beberapa penenun dari jawa. Salah seorang di antaranya adalah Ismail sukiman bersama istri Kartinah, keduanya dari kediri, salah satu daerah tenun yang ada di jawa timur. Suami istri ini sudah menjadi perajin tenun di daerah asalnya. Setelah di Donggala, Ismail tidak saja menjadi penenun tetapi sekaligus menjadi instruktur bagi tenaga terampil bagi bisnis yang di geluti husen.
Mereka pertama tiba di Donggala melalui pelabuhan Donggala yang cukup di kenal pada eranya. Pasangan suami istri ini, bermukim di kilometer dua, Banawa, juga tempat usaha Husen beroperasi. Beberapa tahun keduanya bersama rekan menjadi tenaga kerja dan instruktur di usaha milik pt. Husen.

Baca juga:  Kain tenun gringsing khas Desa Wisata Tenganan Pegringsingan


Di perkirakan awal tahun 1970-an, Ismail kemudian memboyong keluarganya pindah ke Palu dan bermukim di jalan mangga, Palu Barat. Disinilah Ismail mengembangkan sendiri tenun ATBMnya dan memperkerjakan beberapa perajin di Palu. Sebagian dari Tenaga kerja itu berasal dari tipo, watusampu dan Bluri. Sebagian pekerja tenun di kerjakan di rumah tenun milik Ismail dan sebagian di kerjakan di rumah masing masing perajin.
Darisinilah proses tranfer keterampilan menenun dengan ATBM itu berlangsung dari ismail ke perajin Lokal. Ini pula sebabnya sehingga jalan mangga saat ini di kenal sebagai Pusat UMKM Tenun Donggala
Ismail kartinah punya 14 orang anak putera dan puteri. Sembilan di antaranya lahir di kediri . Lima lainya sudah lahir di palu . Lima anak Ismail yang lahir di palu itulah sejak kecil sudah akrab dengan benang, alat tenun, dan pewarna benang.


” Bangun tidur langsung ketemu benang setiap hari kami melihat orang tua mencelup kain dan memberi warna benang ” kisah Imam Basuki anak ke 10 dari ismail kartinah.
Imam adalah anak pertama barep yang lahir di palu bersama empat adiknya yang lain. Berkat pengalaman kecilnya yang sudah akrab dengan urusan tenun menenun. Imam bersama saudaranya kemudian melanjutkan usaha ayahnya iru. Selain menjadi penenun, imam juga mengembangkan bisnis tenun dengan membuka toko kain tenun di jalan mangga . Nama toko UD. Anugrah. Dari tenun kain Donggala inilah Imam bersama istri menyandarkan ekonomi keluarganya.
Masih di jalan mangga, empat adiknya juga membangun bisnis kain tenun Donggala, di antaranya Slamet dengan nama Indosutra mandiri. Dan adiknya yang lain mengembangkan bisnis tenun di sigi.


Meski ismail sudah meninggal pada tahun 1999, namun semangat tenun yang ada pada dirinya terus tumbuh di tangan anak anaknya . Mesti meninggalkan istri dan anak anak tanpa harta berlebihan namun warisan namun keterampilan menenun telah mengantarkan anak anaknya menjadi pengusaha sukses. Mereka menyandarkan ekonomi dari hidup bisnis tenun, mulai dari kebutuhan sehari hari hingga membangun rumah dan menyekolahkan anak anak. Kontribusi keluarga Ismail Basuki menjadi bagian yang tak terpisahkan dari daur penenun kehidupan penenun dewasa ini.
” sekarang tinggal anak anak saya yang melanjutkan usaha bapak, saya sudah tua tidak lagi menenun mata sudah kabur. Dulu saya menenun bersama bapak dan anak anak masih kecil ,makanya mereka sudah kenal tenun sejak anak anak ” kata hj Kartinah istri almarhum Ismail.

Baca juga:  Jangan Dipakai Sembarangan! Ini Sederet Batik Larangan Keraton Yogya


Kini Imam Basuki sebagai anak tertua tidak saja mengembangkan bisnis tenub, namun juga aktif sebagai instruktur tenun .
Bagi anda yang ingin belajar tenun menenun bisa bertandang ke Toko Anugrah sekaligus melihat dari dekat berbagai macam produksi dari tangan tangan trampil penenun tradisional di kota Palu dan Donggala. Beberapa tahun lalu, Imam Basuki mendritibusikan hingga 20 ATBM ke penenun di sejumlah desa, namun kini tak ada lagi yang bertahan seiiring semakin sedikitnya generasi muda penenun kain Donggala.
Imam tidak saja berkontribusi dalam memasarkan karya budaya bangsa itu, namun ia juga berkontribusi dalam membangun semangat dan pengetahuan kepada sejumlah generasi. Pria kelahiran Donggala pada Desember 1968 itu pernah mengajar tenun sebagai keteranpilan luar sekolah SMP 8 Tipo pada tahun 2005. Pada 14_24 juni 2009 Imam Basuki menjadi instruktur dalam Pelatihan dan pembuatan kain tenun Donggala yang du lakukan oleh Sibermas

motif buya bomba atbm


Imam Basuki dengan usaha tenunya mengikuti berbagai event promosi dalam dan luar negeri.
Imam membangun bisnis kain tenun Donggala, pertama menjadi buruh tenun dari seorang perajin juga dari jawa. Namanya Pk Abdul Madjid dari gresik, perusahaan bernama TITis cukup di kenal ketimbang usaha milik Ismail Sukiman.
Kemungkinan Abdul Madjid adalah generasi yang sama dengan Ismail sukuman namun latar belakang kultur yang berbeda. Abdul Madjid dari Gresik sedangkan Ismail sukiman dari Kediri, dua daerah tersebut merupakan sentra tenun di jawa timur.
Abdul madjid dan Ismail Sukiman adalah dua guru tenun dari jawa yang memiliki karakter berbeda . Abdul Madjid di kenal sebagai penenun lincah karena umumnya karakter penenun dari gresik lebih lincah dan cepat. Jika di kediri bisa menghasilkan dua sarung tenun dalam dua hari ATBM, di gresik bisa tiga lembar sarung.
” Ibarat musik,penenun kediri itu slow rock , sementara di gresik itu rock” kata Imam yang sudah berkeliling di sejumlah sentra di jawa.
Penenun jawa ikut memberi kintribusi dalam perkembangan tenun Donggala tetapi corak dan teknik penenunya tidak memberi pengaruh besar dalam karya tenun Donggala. Hal ini di akibatkan penggunaan ATBM di seluruh Indonesia semuanya hampir sama. Apalagi tenun Donggala memiliki ciri dan motif sendiri, salah satu kekuatan tenun Donggala terletak pada tenun gedokan songketnya atau lebih di kenal dengan buya sabe . ( Anugrah R )

Baca juga:  Motif Buya Bomba Menurut Masyudin Masyuda, BA
Bagikan Artikel Ini