Memimpikan Batik Bomba di New York Fashion Week

Serupa tapi tak sama. Begitu kira-kira potret yang menggambarkan nasib kain batik Bomba Palu (Sulawesi Tengah) dengan batik Papua. Keduanya sama-sama menjadi produk kain batik yang menjadi identitas lokal masing-masing daerah. Namun nasibnya tak sama alias berbeda.

Batik Papua pada awal Oktober tahun ini telah ‘naik kelas’ dengan sukses tampil dalam ajang fashion show internasional bergengsi yang bertajuk “New York Fashion Week” (NYFW) 2021. Keindahan busana motif Papua telah menggemparkan masyarakat di jantung bisnis dan ekonomi Amerika Serikat (AS) tersebut.

Sementara di sisi lain, saya cukup miris membaca sebuah artikel yang judul nasib tenun batik Bomba Palu di ujung tanduk. Isi tulisan itu menyebutkan tenun batik Bomba yang menjadi salahsatu kebanggan dan warisan budaya kota Palu boleh dibilang nyaris punah. Mengapa? Tentu banyak faktor penyebab. Saya tidak akan membahasnya disini. Biarlah itu menjadi urusan dan tanggujawab para stakeholder.

Dalam perkembangannya, tenun batik tidak lagi dipandang sebagai produk tradisi yang kuno. Terbukti dari banyaknya orang yang mulai mengenakan batik sebagai pakaiannya sehari-hari. Bahkan saya melihat tak jarang yang menjadikannya sebagai instrumen lifestyle.

Sejauh ini kain tenun batik tradisional seperti halnya batik Bomba memiliki ciri khas yang unik dan beragam. Tenun sendiri adalah teknik dalam pembuatan kain dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Tenun yang bagian benang vertikalnya disebut benang lungsi, sementara tenun yang bagian benang horizontalnya diikat disebut benang pakan.

Namun, tidak semua motif tenun dibuat dengan teknik ikat tersebut, seperti songket yang ditenun dengan tangan menggunakan benang emas dan perak. Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya. Pembuatan kain tenun tersebar di beberapa daerah dan memiliki karakter berbeda-beda dan unik.

Baca juga:  Sejarah Tawaeli

Setahu saya khusus di Sulawesi Tengah, telah dikenal tenun Bomba dan tenun Subi. Sedangkan tenun Donggala lebih duluan populer di kalangan masyarakat dengan kain sarung sejak era 1960-an.

Menurut saya, kain batik Bomba sebagai identitas Palu harus di dorong menjadi produk nasional bahkan produk global. Pengembangan desain, pemilihan bahan menjadi sangat penting untuk dilakukan agar ada kebanggaan ketika memakainya. Saya pribadi akan terus mengkampanyekan kain batik Bomba dan kain Donggala dengan memberi ruang kepada pengrajin untuk berinovasi.

Bukan hal berlebihan bila suatu waktu, saya memimpikan batik Bomba bisa “naik kelas” seperti produk kain batik daerah lainnya yang sukses menembus fashion show bergengsi seperti Paris Fashion Week, Milan Fashion Week atau NYFW. Sebut saja Batik Durian asal Lubuk Linggau yang bisa tampil di Milan Fashion Week 2021. Tak usah jauh-jauh, kain Karawo asal Gorontalo yang pernah tampil di ajang fashion show bergengsi di Amerik Serikat.

Nah, kalau batik daerah lain bisa go internasional mengapa batik Bomba tidak bisa? ***(Rusman Madjulekka, pemerhati tenun dan batik daerah).

Bagikan Artikel Ini