Latar belakang terbentuknya Asosiasi Tenun Donggala Sulawesi Tengah

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi telah mengantarkan peradaban ummat manusia telah memasuki era dimana batas batas melebur dan nilai-nilai kultural bertemu serta membentuk simpul kebudayaan baru yang saling mempengaruhi satu sama lainya.

Demikian pula halnya dengan kebudayaan di wilayah Propinsi Sulawesi Tengah  dimana pengaruh besar arus kebudayaan global ini telah sampai di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat sehari hari. Pengaruh besar kebudayaan global dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini di satu sisi memberikan sumbangan besar

terhadap pembangunan di berbaqgai sektor kehidupan, namun di sisi lain juga berdampak pada mengaburnya nilai-nlai kearifan lokal dan identitas kultural yang di miliki oleh sekelompok masyarakat

Pesatnya pertumbuhan Teknologi dan industri secara massal,sebagai bagian dari kemajuan peradaban ummat manusia tidak hanya menggeser geografi kultural sebuah bangsa namun juga telah menggeser berbagai produk produk kearifan budaya lokal dari akar kulturalnya. Seperti halnya dengan berbagai produk budaya lokal lainya yang tidak memiliki resistensi terhadap arus besar globalisasi, Tenunan Donggala sebagai produk dari  kearifan budaya lokal tersebut juga mengghadapi hal yang sama. Tenun Donggala yang selama berabad abad telah menjadi bagian dari identitas kultural tersebut harus termarjinalisasi di tengah masyarakat pendukungnya sendiri.

Kondisi ini kemudian menggerakkan sekelompok pengrajin dan pengusaha Tenun Donggala yang masih setia melestarikan produk budaya lokal ini untuk mencari peluang dan jalan bagi pengembangan Tenun ini, salah satu usaha yang di lakukan oleh para pengrajin dan pengusaha Tenun Donggala dalam melestarikan dan mengembangkan produk budaya lokal ini adalah dengan membentuk sebuah wadah bagi pengembangan tradisi tenun ini tidak hanya semata sebagai sebuah produk yang bernilai ekonomis namun juga berusaha untuk menempatkan posisi tenun Donggala ini sebagai identitas kultural masyarakat di Propinsi Sulawesi Tengah.

Baca juga:  Sang Penenun, Patung Asli Flores 14 Abad ini Ada di Museum Australia

Upaya para pengrajin dan pengusaha TenunDonggala ini kemudian menemukan bentuknya, yaitu gagasan bersama untuk mendirikan lembaga dan Organisasi yang di harapkan dapat menjadi ruang kreativ dan produktif bagi pengembangan Tenun Donggala tersebut . Melanjutkan dan merealisasi hal itu, para pengrajin dan pengusaha Tenun Donggala kemudian berencana membentuk Asosiasi Tenun Donggala yang melalui kesempatan ini di realisasikan melalui pelaksanaan sebuah rapat pendirian. Asosiasi Tenun Donggala di dirikan pada tanggal 8 agustus 2011, dan menjadi organisasi berbadan hukum , akta notaris Farid SH , nomor 25 tanggal 10 februari 2015.

Sadar akan beban besar, kompleksitas dan berbagai problema yang ada di seputar pelestarian dan pengembangan tenunan donggala ini,maka kontribusi pemikiran partisipasi, bantuan dan kerjasama dari semua pihak sangat di butuhkan.Rapat Pendirian Asosiasi Tenunan Donggala ini di harapkan menjadi titik awal bagi lengkah selanjutnya bagi pelestarian,pembangunan dan pengembangan tenunan Donggala sebagai bahan dari jati diri dan identitas kultural diwilayah propinsi sulawasi tengah dimasa-masa akan datang.semoga (IMAM BASUKI)

Bagikan Artikel Ini