BANGKITNYA TRADISI TENUN DONGGALA DI NEGERI TRAVALLA

Oleh: Jamrin Abubakar

(Peminat sejarah dan budaya)

Nama Travalla tidak lagi dikenal, termasuk warga setempat sebagai pemilik negeri. Padahal dalam literatur orang-orang Eropa abad ke 18 hingga awal abad ke 20 sangat mengenalnya. Bila melewati perairan tersebut jangan sampai singgah, karena di sana sering dilintasi bajak laut.

Travalla yang dimaksud itu adalah Desa Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala. Di desa itu kini memiliki Galeri Tenun. Diresmikan Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah, M. Abdul Majid Ikrab, Sabtu 11 September 2021. Warga pengrajinpun optimis dengan adanya galeri, maka tenun bisa bangkit lebih maju terutama generasi muda.

Tentang kain tenun di Donggala paling tua dapat dibaca di buku The Narrative of Captain David Woodard ditulis William Vaughan terbitan London 1804. Mengisahkan sang kapten kapal Amerika Enterprise saat mengalami penyanderaan selama tahun 1793-1795. David Woodard bersama empat anak buah kapal disandera setelah ditinggalkan oleh kapal yang dinakhodai saat singgah di Donggala.

Secara tersirat David Woodard menceritakan ketika itu orang-orang Melayu di Travalla (tidak menyebut etnis yang selama ini dikenal di Donggala) membuat sendiri kain dengan cara ditenun. Disebutkan kalau mereka penyuka warna dan sangat senang dengan segala sesuatu yang berwarna tajam, terang dan mencolok seperti merah dan kuning. Penduduk memiliki keterampilan pewarnaan dengan cara mencelup dengan hasil tahan lama asal tidak sering kena air atau dicuci lama. Pembuatan kain berbahan buah kapas dengan kualitas bermutu dan kuat hasil budidaya yang melimpah.

Penduduk memiliki banyak ternak kuda selain untuk konsumsi, mereka sangat senang berkuda, sehingga semua kuda tunggangan memiliki pelana bahan kapas yang empuk. Buah kapas dikeringkan dan dibersihkan dengan cara memintal kemudian diolah menjadi kain dengan peralatan sangat sederhana. Sepanjang hari wanita bekerja memintal benang sampai halus dalam jumlah banyak. Disebutkan pula pada masa itu penduduk telah memiliki pakaian berbahan sutra. Tetapi masyarakat setempat tidak memiliki tradisi pembudidayaan ulat sutra sebagai bahan baku melainkan didatangkan dari luar dengan cara membeli.

Baca juga:  TENUN DONGGALA DI KABONGA PUNAH

Tradisi tenun itu kelak dinamai kain tenun Donggala atau sarung sutra donggala, biasa pula disebut buya sabe. Cuma saja masa kini tidak lagi berbahan kapas melainkan benang katun atau benang sintesis. Travalla yang dimaksud David Woodard itu disebutnya kota terletak di sungai kecil di ujung sebuah teluk kecil sekitar 9 mil di arah selatan kota Dungally. Itulah Tovale atau Towale salah satu desa di Kecamatan Banawa Tengah. Sebelum dimekarkan ketika itu meliputi seluruh wilayah Desa Limboro dan Mekar Baru. Catatan tua tersebut menunjukkan kalau tradisi pembuatan kain tenun sudah ada sejak ratusan tahun silam dan masih bertahan sampai saat ini.

Sedangkan Dungally yang dimaksud adalah kota Donggala. David Woodard ketika itu mendeskripsikan Donggala berada di sebuah sisi Teluk Parlow (Teluk Palu) dijaga dengan kekuatan sebuah benteng di atas bukit. Di bukit itu terdapat sekitar 15 senjata putar, 30 senjata api dan dua senjata ringan.

Penduduk Donggala merupakan orang-orang yang suka berperang dan menguasai sebagain besar tanah dan wilayah di bagian utara. Kota Donggala menjadi tempat kediaman raja dan kota itu merupakan tempat perdagangan yang penting dengan pelabuhan yang bagus. Di perairan pantai terdapat banyak ikan, termasuk alligator atau buaya di hampir seluruh pantai.

Desa Towale, 17 km dari kota Donggala paling banyak memiliki pengrajin kain di Kecamatan Banawa Tengah selain Desa Limboro, Kola-Kola, Tosale dan Salubomba. “Di sini sudah lama menjadi kegiatan kaum ibu di rumah, secara turun temurun. Dulu, hampir setiap rumah punya alat tenun,” kata seorang pengrajin berusia 40 tahun. Ia mengaku membuat kain sejak masih berusia 14 tahun. Pengetahuan itu diperoleh dari ibunya langsung dan ibunya belajar dari sang nenek.

Baca juga:  TENUN SEBAGAI INSPIRASI MENATA RUANG

Seorang pengrajin di Desa Limboro menyebut zaman dahulu semua gadis-gadis di desanya pintar menenun. Selain belum banyak kesibukan pekerjaan merupakan kewajiban keluarga mesti diwariskan. Sekarang sesuai perkembangan tidak semua anak gadis berminat menjadi penenun sehingga mengkhawatirkan suatu saat gadis-gadis desa tidak lagi jadi penerus tradisi leluhur, pasti kain terkenal itu punah dan tinggal bahan koleksi museum.

Semula tradisi pembuatan kain untuk mengisi waktu luang di rumah daripada jenuh menunggu suami pulang kerja. Kemudian berkembang menjadi sumber perekonomian kaum perempuan, dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu awal kebiasaan ibu-ibu rumah tangga di Donggala tempo dulu, kemudian menjadi pekerjaan pokok untuk penunjang perekonomian keluarga.

Sejak ratusan tahun pengrajin lebih banyak menggunakan alat sederahana dinamai gedogan secara turun-temurun. Peralatan terbuat dari bahan kayu hitam (eboni), kayu biasa dan bambu. Bahan kain masih berupa benang sutra alam dan kapas dikenal nama spunsilk. Belakangan tidak lagi memakai benang sutra melainkan campuran benang sintetis warna putih agak buram. Merupakan benang umumnya dipakai di berbagai daerah di Indonesia, cara pengolahan yang membedakan hasil dan warna sesuai motif. Pewarna berupa kesumba atau bahan dari tumbuh-tumbuhan diracik sesuai warna yang diinginkan. Benang tersebut dicelupkan selama 24 jam di dalam air telah diberi pewarna, setelah itu dikeringkan dengan cara diangin-anginkan biasanya di bawah kolong rumah.

Adanya intervensi pemerintah sebagian beralih ke ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) sejak 1980-an dan mesin modern (jaguar) sejak awal dekade 2000-an. Lambat atau cepat penyelesaian pembuatan satu lembar kain sarung tergantung pengrajin yang menggunakan alat. Memerlukan ketekunan harus cermat, betah duduk dengan kaki berselonjor di bawah alat tenun selama berjam-jam setiap harinya. Sepintas sangat menjenuhkan, pekerjaan merajut benang lembar demi lembar dirapatkan cukup lama baru terwujud jadi kain. Biasanya dapat selesai selama seminggu sampai sebulan.

Baca juga:  Sang Penenun, Patung Asli Flores 14 Abad ini Ada di Museum Australia

“Tergantung waktu kita mengerjakan. Kalau betul-betul hanya total bertenun setiap hari biasanya hanya satu minggu bisa selesai. Itu umumnya dilakukan bagi yang masih gadis, lain halnya kalau sudah ada anak, sedikit lambat menyelesaikan pekerjaan bisa mencapai satu bulan,” cerita seorang pengrajin di Desa Towale.

Sebutan kain tenun Donggala karena sejak ratusan tahun lalu di dalam kota banyak pengrajin sarung (Boya, Maleni dan Kabonga). Cuma saja sejak akhir dekade 1990-an tidak ada lagi pengrajin di tengah kota, kecuali di desa-desa arah selatan kota Donggala seperti Limboro, Kola-Kola, Towale, Mekar Baru, Salubomba dan Tosale. Berdasarkan pembuatan dan coraknya terdiri dari beberapa jenis disebut kain buya awi, bomba kota, kombinasi bomba dan subi, buya subi, buya bomba, palekat garusu, buya cura dan lainnya (baca dalam Suwati Kartiwa; Kain Tenun Donggala, 1983).

 

Bagikan Artikel Ini